Bahasa Bali

| Selasa, 22 Januari 2013
LONTAR LONTAR

 
Jenis Jenis Lontar
Pokok-pokok ajaran Ketuhanan yang termuat dalam pustaka suci Veda dan Upanisad seperti yang diuraikan di atas ditulis kembali ke dalam lontar-lontar di Bali dengan menggunakan aksara Bali. bahasa Sansekerta-kepulauan, bahasa Jawa Kuna maupun bahasa Bali.

Lontar-lontar tersebut tersimpan dan terpelihara di Bali dalam jumlah yang cukup banyak, tersebar di berbagai tempat. Tempat-tempat tersebut seperti misalnya di: Gedong Kirtya Singaraja. Perpustakaan Universitas Udayana Denpasar, Perpustakaan Universitas Hindu Dharma Denpasar, Perpustakaan Universitas Dwijendra Denpasar, Kantor Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali Propinsi Bali dan lain sebagainya. Di samping itu tidak sedikit juga lontar-lontar itu tersimpan di rumah perorangan yang diwarisi secara turun-temurun, sebagai perpustakaan pribadi.

Isinya memuat berbagai hal yang terkait dengan Agama dan Kebudayaan Hindu di Bali. Sebelum sampai kepada lontar-lontar sumber ajaran filsafat Ketuhanan itu sendiri maka patut pula diketahui beberapa dari lontar-lontar tersebut, di antaranya sebagai berikut :
1
Lontar-lontar tentang puja.
Lontar ini berisi puja pegangan para Sulinggih pada waktu memuja dan "muput" upacara agama. Lontar-lontar ini memakai bahasa Sanskerta kepulauan. Beberapa di antaranya adalah:
  • Wedapankrama
  • Suryasewana
  • Arghapatra
  • Puja ksatrya
  • Puja-mamukur
  • Kajang-pitra-puja
2
Lontar-lontar tentang Yajna.
Lontar-lontar ini banyak benar jenisnya. Umumnya mengandung petunjuk-petunjuk umum untuk melakukan upacara yajna, baik mengenai jenis banten atau sesajennya, perlengkapannya dan sebagainya. Berikut adalah contoh nama lontar yang dimaksud :

  • Dewa-tatwa
  • Sundarigama
  • Wrhaspatikalpa
  • Yamapurwana tatwa
  • Kramaning madiksa
  • Dharma-koripan
  • Janma-prakerti
  • Anggastiaprana
  • Sri purana
  • Tatwa-siwa-purana.

Lontar Wariga
Lontar-lontar lain yang erat hubungannya dengan lontar Yajna ini adalah lontar-lontar Wariga, seperti :
  • Wariga Gemet
  • Wariga Krimping
  • Wariga
  • Wariga Parerasian
  • Wariga Palalawangan
  • Purwaka Wariga.

Lontar-lontar etika
Isinya adalah ajaran tentang etika, kebajikan dan tuntunan untuk menjadi orang "Sadhu" yaitu arif dan bijaksana, berbudi luhur, berpribadi mulia dan berhati suci. Yang termasuk lontar jenis ini antara lain:
  • Sarasamusccaya
  • Slokantara
  • Agastiaparwa
  • Siwasasana
  • Wratisasana
  • Silakrama
  • Pancasiksa

Lontar-lontar tattwa
Lontar-lontar jenis inilah yang memuat ajaran-ajaran Ketuhanan, di samping juga memuat ajaran tentang penjadian alam semesta, ajaran Yoga, ajaraa tentang "Kelepasan" dan sebagainya. Sebagian besar lontar - lontar ini bersifat Siwaistis. Beberapa di antaranya adalah :















 





Klasifikasi Sastra Bali


       Untuk lebih memahami tentang jenis-jenis sastra Bali, maka dengan ini saya mencoba menguraikan sastra Bali dari 4 (empat) tinjauan, yaitu sastra Bali: (1) berdasarkan kondisi empiris dan pragmatis, (2) berdasarkan cara, teknik/tradisi penyajian, (3) berdasarkan struktur penulisan, dan (4) berdasarkan struktur, corak dan waktu pertumbuhkembangannya. untuk lebih jelasnya dapat dipaparkan sebagai berikut.

1.      Berdasarkan Kondisi Empiris dan Pragmatis
Berdasarkan kondisi empiris dan pragmatisnya, sastra Bali dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

a.       Secara Struktural
Secara struktural sastra Bali merupakan himpunan dari karya-karya sastra yang berbahasa Bali, baik bahasa Bali Tengahan maupun bahasa Bali Baru. Tinjauan ini didasarkan atas konstruksi yang membentuk suatu bangun karya sastra Bali. Bahasa nerupakan aspek mendasar dalam mengkonstruksi suatu karya sastra dan selanjutnya dapat memberikan ciri khas terhadap karya sastra tersebut yang dapat membedakannya dengan karya sastra lain. Begitu juga halnya dengan bahasa Bali.
Sebagai aspek mendasar dalam mengkonstruksi karya-karya sastra Bali, bahasa Bali dapat menjadi suatu ciri khas bagi karya-karya sastra lainnya. Adapun contoh dari karya-karya sastra Bali yang termasuk dalam kategori ini adalah gegendingan/dolanan, pupuh (geguritan), pralambang (pribahasa), babad, satua, cerpen, novel, roman, drama dan  puisi-puisi  Bali modern.

b.      Secara Fungsional
Secara fungisonal, di samping merupakan karya-karya sastra yang berbahasa Bali, sastra Bali juga meliputi karya-karya sastra (yang berbahasa Jawa Kuna (Kawi). Tinjauan ini didasarkan atas penggunaan karya-karya sastra Jawa Kuna dalam aspek-aspek kehidupan masyarakat Bali, terutama pada aspek relegi ataupun keagamaan. Sastra Jawa Kuna memiliki kedudukan yang signifikan dalam aktivitas relegi atau keagamaan (Hindu) pada masyarakat Bali. Bahkan, karya-karya sastra Jawa Kuna tersebut telah dianggap sebagai “milik” masyarakat Bali karena adanya kedekatan maupun keakraban terhadap karya sastra tersebut.
Adapun contoh karya-karya sastra Jawa Kuna, sebagai karya sastra Bali secara fungsional tersebut adalah kidung, wirama, palawakia, kanda-kanda dan parwa-parwa.

2.      Berdasarkan Cara, Teknik, atau Tradisi Penyajian
Klasifikasi sastra Bali berdasarkan cara, teknik, atau tradisi penyajiannya dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu: sastra lisan dan sastra tulis.

a.       Sastra Lisan (Sastra Gantian, Sastra Tutur)
Menurut Wayan Budha Gautama, sastra lisan juga disebut kesusastran pretakjana (2007: 31). Sastra Bali dalam bentuk lisan merupakan formulasi dari sastra Bali sebagai teks-teks yang disampaikan secara oralty, yaitu dari mulut ke mulut antara penutur dan pendengar. Proses dalam penyampaian tersebut berlangsung turun-temurun dari generasi ke generasi dalam berbagai versi maupun variasi.
Dalam perkembangannya, sastra (Bali) lisan tersebut telah banyak yang ditulis. Di samping itu, karya-karya tersebut juga ditransformasikan ke dalam bentuk karya sastra tulis, seperti ke dalam geguritan dan peparikan. Sastra Bali dalam formulasi ini juga dapat dikaji melalui perspektif folklor, yaitu suatu ilmu tentang budaya, yang cenderung sebagai budaya lisan, yang telah mengakar pada susatu masyarakat tertentu. Adapun yang termasuk ke dalam sastra lisan ini adalah tembang ( puisi ) berupa gegendingan/dolanan dan gancaran (prosa) berupa satua-satua Bali.
Contoh sastra lisan dalam bentuk tembang ( puisi ), yaitu gegendingan atau nyanyian anak-anak (made cenik, goak maling taluh,dan lain-lain).

Contoh lisan dalam bentuk gancaran ( prosa ), diantaranya Satua Pan Balang Tamak, Satua I Siap Selem, Satua I Bawang Teken I Kesuna, Satua Men Cubling, Satua Pan Angklung Gadang, dan lain-lain.

b.      Sastra Tulis (Sesuratan)
Sastra tulis (sesuratan) juga dikenal dengan nama “kesusastran sujana” oleh Wayan Budha Gautama (2007: 32). Satra Bali dalam bentuk tulis merupakan formulasi dari sastra Bali sebagai teks-teks yang tertuang dalam naskah-naskah tulisan tangan (manuskrips) maupun cetakan, baik berupa lontar, tembaga, maupun kertas. Sastra tulis ini merupakan perkembangan dari sastra lisan sebelumnya ketika masyarakat Bali telah mengenal aksara (huruf).
Sastra lisan lebih mementingkan makna yang terkandung di dalamnya daripada bentuk yang tersaji, sedangkan sastra tulis, adanya bentuk yang tersaji secara tertulis tersebut merupakan suatu rangkaian tanda yang dapat menjadi jembatan untuk menelusuri jejak-jejak makna yang terkandung di dalamnya. Adapun yang termasuk dalam sastra tulis yaitu:
(1)   Terikat, yaitu tembang ( puisi ); sekar rare (gegendingan/dolanan), sekar alit (pupuh), sekar madya (kawitan/kidung), dan sekar agung (wirama) serta peparikan.
(2)   Bebas, yaitu gancaran ( prosa ) dan babad.

3.      Berdasarkan Bentuk/Struktur Penulisan
Berdasarkan bentuk/struktur penulisannya, sastra Bali dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) yaitu:  puisi  (tembang),  prosa  (gancaran), dan prosa liris (palawakia).

a.       Puisi (Tembang)
Sastra Bali dalam bentuk  puisi  (paletan tembang) ini merupakan formulasi dari sastra Bali sebagai suatu karangan dengan pola yang terikat. Seperti karakteristik puisi pada umumnya, kesusastraan Bali dalam hal ini tampil dengan suatu pola yang terstruktur oleh konvensi-konvensi tertentu yang mengikat dan memberikan karakter yang tertentu pula.
Contoh sastra Bali dalam bentuk  puisi  (tembang), yaitu gegendingan/dolanan, pupuh, kidung, wirama, babad dalam bentuk geguritan/peparikan, dan  puisi- puisi  Bali Modern.

b.      Prosa (Gancaran)
Sastra Bali dalam bentuk  prosa (gancaran) merupakan formulasi dari sastra Bali sebagai suatu karangan (fiksi) dengan pola yang bebas. Dalam hal ini, sastra Bali tampil sebagai suatu karangan yang tidak begitu terikat oleh bentuk yang mengemas seperti pada bentuk puisi di atas. Walaupun demikian, adanya hal-hal mendasar dalam  prosa (fiksi) merupakan suatu struktur atau unsur yang signifikan dalam mengonstruksi karya-karya sastra prosa tersebut.
Contoh sastra Bali dalam bentuk  prosa, yaitu babad, satua, cerpen, novel, dan drama.

c.       Prosa Liris (Palawakia)
Sastra Bali dalam bentuk prosa liris prosa liris (palawakia) merupakan karangan bebas, yang tidak terikat dengan aturan seperti prosodi dan metrum seperti pada puisi (tembang). Palawakia merupakan karangan bebas  yang dibaca dengan cara diiramakan/dilagukan. Umumnya palawakia menggunakan bahasa Jawa Kuna/Tengahan.
Contoh sastra Bali dalam bentuk palawakia, yaitu Astadasa Parwa (dalam Kakawin Mahabharata) seperti Adi Parwa sampai dengan Swarga Rohana Parwa, Sapta Kanda (dalam Ramayana) seperti Bala Kanda sampai dengan Uttara Kanda, dan lain sebagainya.

4.      Berdasarkan Struktur, Corak dan Waktu Pertumbuhkembangannya
Berdasarkan struktur corak dan waktu pertumbuhkembangannya, sastra Bali dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua), yaitu: (1) sastra Bali purwa (klasik/lama/kuno), dan (2) sastra Bali anyar (baru/modern).

a.       Sastra Bali Purwa
Sastra Bali purwa (klasik/lama/kuno) merupakan formulasi dari sastra Bali sebagai sastra yang bercorak dan bersifat tradisi atau warisan secara turun-temurun dari masa lampau. Sastra Bali dalam hal ini juga disebut sebagai sastra Bali tradisional sebagai himpunan karya-karya sastra yang dibangun atas struktur tradisional, baik dalam konvensi, tema, tokoh, maupun motif cerita yang ditampilkan. Pada karya-karya sastra tersebut dapat dijumpai adanya nilai-nilai luhur yang telah hidup dan dianut oleh masyarakat Bali sejak masa lampau sabagai nilai-nilai yang adiluhung. Contoh sastra Bali purwa, yaitu tembang, gancaran, dan palawakia.

b.      Sastra Bali Anyar
Sastra Bali anyar (baru/modern) merupakan formulasi dari sastra sebagai suatu pola atau tipologi sastra yang muncul pada masa kolonial dengan adanya pengaruh dari sastra Indonesia maupun Barat. Pada masa kolonial, sastra Barat, seperti novel, cerpen (short story), dan  puisi-puisi  (poetry) Barat, mulai masuk ke Indonesia. Pola-pola sastra tersebut diterima dalam sastra Indonesia melalui suatu adopsi dan adaptasi, sehingga lahirlah sastra Indonesia Modern.
Perkembangan sastra Indonesia yang demikian turut mempengaruhi perkembangan sastra Bali, sehingga pola-pola sastra tersebut juga diinternalisasi ke dalam sastra Bali. Hal ini ditunjukkan oleh lahirnya novel-novel, cerpen-cerpen (satua bawak), maupun  puisi-puisi  Bali modern yang tentunya menggunakan bahasa Bali. Pola sastra tersebut merupakan contoh-contoh dari sastra Bali anyar tersebut. Contoh sastra Bali anyar, yaitu puisi dan  prosa






Satua I Sugih Teken I Tiwas


Satua I Sugih Teken I Tiwas


Ada tuturan satua I Sugih Teken I Tiwas. I Sugih ia sugih pesan, nanging demit. Tur ia iri ati, jail teken anak lacur. Liu anake tusing demen teken I Sugih. 
I Tiwas buka adane tiwas pesan, nanging melah solahne, tusing taen jail teken timpal. Sai-sai I Tiwas ka alase ngalih saang lakar adepa ka peken.
Nuju dina anu I Tiwas kumah I Sugihe ngidih api. Ditu ngomong I Sugih, “Ih Tiwas, alihin ja icang kutu! Yan sube telah nyanan upahine baas.” I Tiwas ngalihin kutun I Sugihe, sube tengai mare suud. I Tiwas upahine baas acrongcong. Ia ngencolang mulih, lantas baase ento jakana. 
I Sugih jumahne masiksikan, maan kutu aukud. Ngenggalang ia kumah I Tiwase, laut ngomong kene, “Ih Tiwas, ene icang maan kutu aukud. Jani mai ulihang baas icange I tuni.” Mesaut I Tiwas, “ Yeh, baase I tuni suba jakan tiang.” Masaut I Sugih, “Nah, ento suba aba mai anggon pasilih!”
Nasine ane sube ngantiang lebeng ento juange. Kayang kuskusane abana baan I Sugih. Nyananne buin teka I Sugih laut ngomong, “Ih Tiwas, I tuni bena nyilih api teken saang. Api teken saang icange ento patut manakan. Jani mai aba panak apine teken saang icange ento!”
Ditu lantas apin I Tiwase juanga baan I Sugih. Tekaning saangne apesel gede masih juanga, I Tiwas bengong ngenehang lacurne buka keto.
Maninne I Tiwas tundene nebuk padi baan I Sugih. Lakar upahine baas duang crongcong. I Tiwas nyak nebuk kanti sanja mara pragat. Upahina ia baas, laut encol mulih lakar nyakan. I Sugih jumahne nyeksek baasne, maan latah dadua. Ditu encol ia kumah I Tiwase. Suba teked laut ngomong, “Ih Tiwas, ene baase enu misi latah dadua. Jani ulihang baas icange. Yan suba majakan, ento aba mai!” Suud ia ngomong keto, lantas jakanan I Tiwase juanga. Kayang payukne masih juanga baan I Sugih.
Sedek dina anu I Tiwas luas ka alase, krasak krosok ngalih saang. Saget teka sang kidang tur ngomong, “Ih Tiwas, apa kaalih ditu?” Masaut I Tiwas tur nasarin pesan, “Tiang ngalih saang teken paku.” “Lakar anggon apa ngalih paku?” Masaut I Tiwas, “Lakar anggon tiang jukut.” “Ih Tiwas, lamun nyai nyak nyeluk jit nirane, ditu ada pabaang nira teken nyai!”
Ditu lantas seluka jit kidange. Mara kedenga, bek limane misi mas teken selaka. Suud keto sang kidang ilang. I Tiwas kendel pesan lantas mulih. Teked jumah ia luas ka pande. Nunden ngae gelang, bungkung teken kalung. I Tiwas jani sugih liu ngelah mas slake. Mekejang pianakne nganggo bungah, megelang, mabungkung, makalung mas. Lantas ia pesu mablanja.
Ditu tepukina I Tiwas teken I Sugih. Ia jengis delak-delik ngiwasin pianakne I Tiwas. Maninne I Sugih ka umahne I Tiwas matakon, “Ih Tiwas, dije nyai maan slake liu?” Masaut I Tiwas, “Kene mbok, ibi tiang ka alase ngalih lakar jukut. Saget ada kidang, nunden nyeluk jitney. Lantas seluk tiang, ditu maan mas teken slake.” Mara keto I Sugih ngencolang mulih.
Maninne I Sugih ngemalunin luas ka alase. I sugih nyaru-nyaru buka anake tiwas. Ditu ia krasak-krosok ngalih saang teken paku. Saget teka sang kidang, tur matakon, “Nyen ento krasak-krosok?” Masaut I Sugih sambilanga maakin sang kidang, “Tiang I Tiwas, uli puang tiang tuara nyakan.” I Sugih klebet-klebet bayune kendel pesan. Mesaut sang kidang, “Ih Tiwas, mai dini seluk jit nirane!” Mara keto lantas seluka jit kidange ento.
Mara macelep limanne, lantas kijem jit kidange. I Sugih paida abana ka dui-duine. I Sugih ngeling aduh-aduh katulung-tulung. “Nunas ica, nunas ica, lebang tiang! Tiang kapok, tiang kapok!”
Di pangkunge I Sugih mara lebanga. Ia pepetengan, awakne matatu babak belur. Di subanne inget, ia magaang mulih. Teked jumahne lantas ia gelem makelo. Keto upah anake loba tur iri ati.






 

 

 

 

 

 

Babad Bali

Suatu karya yang bermanfaat untuk semua orang.

Rabu, 04 Juli 2012

KASUSASTRAAN BALI






          Kasustraan mawit saking kruna sastra sane mateges ajah-ajahan / ilmu pengetahuan. polih pangater Su sane   mateges becik utawi luwih, lan polih pangater lan pengiring (Ka-an) punika mateges nyihnayang kawentenan.

• Kasusastraan inggih punika kawentenan ajah-ajahan sane becik utawi luwih.
• Kasusastraan taler mategeses: kekawian sastra sane metu saking padma hredaya manusa sane marupa
   tulisan utawi karangan sane kawentenannyane luwih, becik tur lengut.

• Puisi inggih punika kekawian sastra sane kaiket antuk uger-uger.
• Prosa inggih puniki kakawian sastra sane nenten kaiket antuk uger-uger.

• Contoh Prosa Bali Purwa
     - Satua-Satua ( sekadi: Bawang Teken Kesuna, Siap Selem,Pan Balang Tamak, Msl.) )
     - Babad (sekadi: Babad Dalem, Babad Pasek, Msl.)
     - Kanda (sekadi: Kanda Pat rare, Kanda Pat sari, Msl.)
     - Wiracarita (sekadi: Mahabharata, Bratayudha, Ramayana, Msl.)

• Contoh Puisi Bali Purwa
     - Sekar rare
     - Sekar alit
     - Sekar madya
     - Sekar agung

• Contoh Prosa Bali Anyar
   1. Novel / Roman
       - Malancaran Ka Sasak olih I Gede Srawana
       - Lan Jani olih I Made Wanda
       - Msl.
   2. Cerpen
      - Togog olih I Made Sanggra
      - Kampih di Kakisik olih Jelantik Santha
      - Msl.
  3. Drama
      - Nang Kepod olih Ketut Aryana
      - Maboros olih Putu Gede Suata
     - Msl.

• Contoh Puisi Bali Purwa
   - Bali olih Ngurah Yupa
   - Basa Bali olih Suntari Pr.
   - Galang Bulan olih K. Putra
   - Mati Nguda olih Putu Sedana
   - Idupe Nemu Sengsara olih Made Sanggra
   - Jagi Surup Suryane olih Made Taro
   - Msl



Minab semeton sami kari eling ring peplajahan ritatkala kari masekolah khususne ring pelajahan Bahasa Bali. Ne mangkin titiang wantah..... eeee...istilahne 'mereview ulang' :p :p akidik peplajahan punika khususne ring pelajahan basitha paribasa. Napi nika basitha paribasa? Basitha Paribasa inggih punika basa rerasmen wiadin panglengut basa. Kanggen panglengut basa sajeroning mabebaosan kalih magegonjakan, sajeroning basa pakraman wiadin basa pasawitrayan.

Seosan ring punika, Sang Kawi sane sampun wibuhing Basa Basitha, tan mari ngunggahang Basitha Paribasa puniki, sakadi Uperenga miwah Pralambang, sane makardi lengut kakawian punika. Minab semeton sami kari eling napi-napi manten sane ngranjing Basitha Paribasa punika. Kenten taler minab karing eling contone soang-soang.

Sane ngranjing Basitha Paribasa minakadi :
  1. Sesonggan.*
  2. Sesenggakan.*
  3. Wewangsalan.*
  4. Sloka.*
  5. Bebladbadan.*
  6. Pepindan utawi Sesawangan.*
  7. Cecimpedan.*
  8. Cecangkriman.*
  9. Sesimbing.*
  10. Cecangkitan.*
  11. Raos Ngempelin.*
  12. Sipta utawi Sasemon.*
  13. Peparikan.*
  14. Gegendingan.
  15. Sesapan.*
  16. Tetingkesan.*
  17. Sesawen.

Punika sane ngranjing Basitha Paribasa. Antuk 'penjelasane' soang-soang jagi icen tiang ring postingan sane lintang. Inggih punika dumun saking titiang. Anggen ngeling-ngelingan malih memori daweg kari alit melajah Bahasa Bali. Suksma! (*bb/bsp)

Kaketus saking :
* Buku Basitha Paribasa Bali
* Buku Kumuda Sari II

WEWANGSALAN
Wewangsalan puniki pateh sakadi tamsil ring Bahasa Indonesia. Wewangsalan kruna lingganipun "wangsal" sane artinipun "lampah", polih pangiring "an" dados "wangsalan", kaduipurwayang dados "wewangsalan", artinipun lelampahan saparipolah kalih kahanan janma, sakadi sasimbing sane sada pedas suksmanipun.

Wewangsalan puniki kawangun antuk lengkara kalih palet utawi carik. Lengkara sane riinan sakadi "sampiran", indik daging kahiun sang ngucap, kewanten kantun makubda (ilid) suksmanipun. Lengkarane sane pungkuran punika daging sajati, sane nerangan suksmanipun tur mawirama kalih mapurwakanti (bersajak). Wenten taler sane nenten ngucapang lengkarane pungkuran, antuk kasengguh sami anake sampun ngerti ring suksmanipun. Ring asapunapine kawangun antuk lelampahan ring pawayangan. Ki Dalang ngawi satua bawak babaudan, nyimbingin sinalih tunggil sang nonton sane saud (iwang) laksananipun. Wenten taler sane mawangun gambar (karikatur).

Ring sor puniki wenten makudang-kudang wewangsalan luiripun :
  1. Asep menyan majagau, suksmanipun = nakep lenggar aji kau
  2. Ada tengeh masui kaput, suksmanipun = ada keneh mamunyi takut
  3. Bakat kocok misi isen, suksmanipun = awak bocok tuara ngasen
  4. Bangbang dadua ken ceburin, suksmanipun = bajang dadua ken anggurin
  5. Be lele mawadah kau, suksmanipun = suba jele mara tau
  6. Bedeg majemuh bangsing di banjar, suksmanipun = jegeg buin lemuh langsing lanjar
  7. Baju gadang potongan gantut, suksmanipun = tuyuh magadang tuara maan entut
  8. Buangit kali gangsa, suksmanipun = magae lengit ngamah gasa (kereng)
  9. Buah sabo mawadah klukuh, suksmanipun = awak bodo buin angkuh
  10. Cekcek poleng temisi bengil, suksmanipun = desek ngereng gisi nengil
  11. Clebingkah beten biu, suksmanipun = gumi linggah ajak liu
  12. Dagdag candung selem samah, suksmanipun = berag landung kereng ngamah
  13. Delemk sangut merdah tualen, suksmanipun = medem bangun ngamah dogen
  14. Dija kacang ditu komak, suksmanipun = dija pejang ditu jemak
  15. Eber-eber ilih, suksmanipun = bebeger baan nyilih
  16. Gamongan kladi jae, suksmanipun = omongan dadi gae
  17. Gedenan padange teken gondane, suksmanipun = gedenan tandange teken gobane
  18. Gonda godeg bakat kukur, suksmanipun = goba jegeg baan pupur
  19. Idup kedele mati kacang, suksmanipun = idup jele mati sayang
  20. Jempiit batan biu, suksmanipun = ngajengit ajaka liu

Inggih amunika dumun saking tiang indik weangsalan lan conto-contone. Benjang-benjang yan wenten galah malih jagi lanturang tiang. Dumogi mawiguna!(*bb/bsp)

Kaketus saking :
*Buku Basitha Paribasa

BLADBADAN
Bebladbadan kruna lingganipun "babad" artinipun tutur jati sane sampun kalampahan riin. Babad taler maarti abas wiadin basang kebo, banteng, utawi kambing. Sasampun polih seselan "el", pangiring "an" lan kaduipurwayang dados bebladbadan sane mateges kruna bebasan, kaanggen papiringan, saha madue purwakanti (bersajak).

Bebladbadan puniki kawangun antuk lengkara utawi kruna tigang palet. Krunane sane pinih riin apalet dados "giing" utawi "bantang", krunane sane kaping kalih apalet, "arti sujati (bebasanipun)", sakadi sampiran, sane ngawangun purwakanti (sajak), krunane sane kaping tiga "arti paribasa", wiadin suksmanipun, makadi :
  1. Giing (bantang) : majempong bebek,
  2. Arti sujati (bebasanipun) : jambul,
  3. Arti paribasa : ngambul.
Dadosne kecap "mbul" ring kruna "jambul", mapurwakanti ring kecap "mbul" ring kruna "ngambul".

Bebladbadan puniki masaih ring "wewangsalan", sakadi papiring indik kahanan kalih laksanan janma, ring asapunapine sada pedas suksmanipun. Kewanten yening anake mabladbadan, artinipun sane sujati nenten kaucapang, antuk kasengguh sami sampun uning ring artinipun.

Ring sor puniki wenten makudang-kudang conto bebladbadan , luiripine :
  1. Ketimun pait = paya, arti paribasane = semaya
  2. Wayang gadang = Kresna, arti paribasane = tresna
  3. Macarang Uga = sambilan, arti paribasane = masambilan
  4. Matabeng gelang = tutub, arti paribasane = tutugang
  5. Makunyit di alas = temu, arti paribasane = katemu
  6. Mabuaya di tegal = alu, arti paribasane = nglalu, kalu
  7. Mataluh nyuh = tombong, ati paribasane = sombong
  8. Jukut gedebong = ares, arti paribasane = ngeres-eresin
  9. Matiuk Jawa = belati, arti paribasane = ngulati
  10. Mabatis bebek = gempel, arti paribasane = ngempelin
  11. Base wayah = kakap, arti paribasane = gapgapan
  12. Mabuah jaka = beluluk, arti paribasane = nguluk-nguluk
  13. Mabuah wayah = jebug, arti paribasane = gedebug
  14. Mabuah kelor = klentang, arti paribasane = klentangin
  15. Mabubuh kladi = kulek, arti paribasane = elek
  16. Jaja uli magula = abug, arti paribasane = jebug
  17. Maboreh tangkah = buat, arti paribasane = kuat
  18. Mablakas peleng = timpas, arti paribasane = mimpas
  19. Mabaju tanpa lima = kutang, arti paribasane = kutang
  20. Beruk magantung = kakocor, arti paribasane = bocol
  21. Maabian Jawa = kebon, arti paribasane = ngebon

Inggih amunika dumun saking tiang indik bebladbadan. Benjang-benjang malih lanturang titiang.(*bb/bsb)

Kaketus saking :
* Buku Basitha Paribasa


CECIMPEDAN
Cacimpedan ring Bahasa Indonesia nika pateh sekadi "Teka-Teki". Cacimpedan puniki anggen pangulir budi, rikala magagonjakan utawi macanda. Linggaipun: "cimped", artinipun: bade (takeh), polih pangiring "an", dados: cimpedan, raris kaduipurwayang, dados: "cacimpedan", artinipun: bade-badean. Cacimpedan puniki sampun ketah utawi lumrah, kariinin antuk lengkara pitaken: Apake......? Ring sor puniki wantah imba utawi conto-conto cacimpedan. Minab wenten sameton sane tau utawi uning ring jawabanne?

Apake.....
  1. Apake anak cerik matapel?
  2. Anak satak maka satak matlusuk?
  3. Anak satak makasatak maudeng putih?
  4. Apa anak cerik maid cacing?
  5. Apa anak cerik maid enceh?
  6. Apa anak bongkok kereng nyuun?
  7. Anak cerik pantigang ngurek gumi?
  8. Ane kajeps idup, ane nyepes mati?
  9. Ane negen nongos, Ane kategen majalan?
  10. Ane tegeh dugdugin, ane endep juangin?
  11. Apa cekuk kajengitin?
  12. Apa cekuk baong godot basangne pesu gending?
  13. Apa bale gede matampul abesik?
  14. Base alukun ulung seka bidang?
  15. Apa don ne amun pedang, buahne amun guungan?
  16. Apa don ne srining-srining buahne amun gong?
  17. Apa don ne amun tutup, buahne amun sirah?
  18. Apa don ne utusan, buahne aturan?
  19. Apa don ne amun tlapak lima, buahne amun sigi?
  20. Apa di cerikne mapusung, di kelihne magambahan?

Pasaur / arti:
  1. Blauk
  2. Iga-iga
  3. Bungan ambengan
  4. Jaum misi benang
  5. Caratn
  6. Sendi
  7. Gangsing
  8. Pagehan
  9. Pancoran
  10. Neraca
  11. Caratan
  12. Rebab
  13. Pajeng
  14. Pusuh biu
  15. Punyan ental
  16. Punyan jempinis
  17. Waluh
  18. Punyan ental
  19. Base
  20. Padi


Kaketus saking:
* Buku Basitha Paribasa



SESAWANGAN
Sesawangan, lingganipun "sawang", artinipun : mirib, polih pangiring "an", dados sesawangan, raris kadwipurwayang dados "sesawangan", tegesipun : punapa-punapi ugi sane katon (kacingak), raris kalawatang (karasayang) ring kahiun, mirib sakadi solah kalih kahanan janma (mapawongan), upami : kedapan bunga nagasarine maelogan tempuh angin, kasawangan sakadi tangan anak istri ayu ngulapin.

Sawangan = iribang buka..........; masawang kuning = mirib sada kuning agigis. Sesawangan puniki ketahipun ngangge kruna : buka, kadi, tan pendah kadi, waluya kadi, luir, alah, amunan. Sesawangan puniki ring Bahasa Indonesia pateh sekadi perumpamaan. Ring Geguritan Megantaka wenten mungguh :

Pupuh Pangkur
  1. Pamargine malonlonan,
    nolih kori rakane jua kaesti,
    rasanya teka manutug,
    nyaup nyangkol ngarasaras,
    angin alon mamuat bon bungane arum,
    enjunge nyukur katinggalan,
    masawang bale kaaksi.
  2. Maabah-abah sarwa endah,
    malalangse ombake nene titir,
    lumute kasampeh liu,
    masawang tikeh makebat,
    tur makasur bulung-bulunge ne anyud,
    kaange ne pacurenggah,
    masawang togog di samping.
"Tegesipun : rasanya = manutug; enjunge, masawang : bale; ombake titir, masawang : abah-abah muah langse; bulung-bulunge, masawang : kasur; kaangge pacurenggah, kasawangan : togog."
Ring sor puniki wantah conto-conto sesawangan, luire :
  1. Buka bulane kalemahan, suksmanipun : kembang lemlenm.
  2. Kadi tunjung tan pawarih, suksmanipun : layu dudus.
  3. Luir nyuh gading kembar, suksmanipun : susune sane nyangkil putih gading.
  4. Kaya taru ragas tinibeng wresti; taru ragas = kayu ligir, tinibeng wresti = tepen ujan; suksmanipun : sakadi anake kendel polih kasadian.
  5. Kadi sulur tempuh angin; sulur = entikan bun; sesawangan bangkiang sane lemuh magelohan.
Inggih amunika dumun. Benjang-benjang malih jagi lanturang tiang. Suksma!(*bb/bsp)




SLOKA
Sloka yening ring Bahasa Indonesia pateh sekadi "Bidal". Sloka puniki masaih ring sesonggan, kantun ilid artinipun. Kewanten binanipun, sloka puniki ngengge lengkara; Buka slokane,......., Buka slokane gumine,......., Kadi slokan jagate,........, upami :
  1. "Buka slokane, adeng buin sepita, suksmanipun : kaucapang ring anake sane kalintang plapan (tangar) ngraos lan melaksana.
  2. "Buka slokan gumine, nundunin macan turu, suksmanipun : sakadi anake sane nantangin musuh sane sampun nengil.
  3. "Skadi slokan jagate, sukeh anake ngebatang banjar, suksmanipun : wiakti sukeh pisan anake dados klian jaga ngladenin anak akeh (rakyat).
Puniki malih sloka rin sor :
  1. Buka slokane, aji keteng mudah, aji dadua mael, suksmanipun : kaucapang ring anake sane neten uning ngajinin pitresnan kalih paweweh anak lianan (timpal).
  2. Buka sloka, ajum-ajuman puuh, sangkure masih ia, suksmanipune : sakadi anake sane beog ajum, pamuput ipun pacang pocol wiadin sengkala.
  3. Buka slokane, apa ane pamula, keto ane kapupu, sulsmanipun : napi sane kakaryanin, sapunika taelr pikolehipun; yening melaksana kaon, sinah sengkala sane jagi kapanggih.
  4. Buka sloka, bani mabak jepun, eda takut kena getahne, suksmanipun : yening purun ngambil pakaryan sane ageng tur abot, sampunang ajerih pacang manggihin pakeweh utawi kabean ageng.
  5. Buka slokane, bantang busuk badingang, apa tuara misi, suksmanipun : kiwangane san elintang, yening mangkin malih medalang wiadin raosang, janten ngakehang kanten kaiwangan ipun.
Inggih asapunika dumun. Benjangan malih yen wenten galih jagi lanturang titiang ring conto-conto sloka sane lianan. Suksma!!(*bb/bsp)


Sasenggakan (Ibarat)

Sasenggakan puniki pateh sakadi ibarat, ring bahasa Indonesia. Sasenggakan, linggaipun "Senggak", artinipun "Singguk" utawi "Sentil" antuk raos. Senggak polih pangiring "an" dados senggakan, kadwipurwayang dados "Sasenggakan" ngintar basa (kata ungkapan), tegesipun "Babinjulan" makardi ica sang miragi utawi mireng, semalih makardi jengah tur sebet sang kaanggen sasenggakan, antuk keni kasentil manahipun.

Sasenggakan puniki sakadi palambang utawi sasimbing indik kahanan kalih polah janma sane kaimbangan ring kahanan kalih polah buron utawi barang, upami :

Wenten anak mawasta I Balag. Sabilang sangkep ring banjar ipun kiap, nguyuk-uyuk ngengkis raris pules. Indik I Balag puniki raris anggena sasenggakan ring banjaripune. Yen wenten murid kiap nguyuk ring sekolahan, raris kaucapang antuk timpalipune sakadi I Balag. Yening murid punika kalih I Balag miragi dewekipune kaanggen sasenggakan, janten ipun jengah wiadin sebet kabinjulin.

Sasenggakan puniki taler sakadi sesonggan, kewanten binanipun sasenggakan puniki satata kariinin antuk kruna "Buka", tur wenten sane sakadi sampiran ipun. Lengkarane sane riinan dados giing (sampiran), sane apalet pungkuran dados katerangan polah wiadin kahanan, raris kalanturang antuk suksemanipun. Ring asapunipune nenten perlu malih dagingin suksemanipun, antuk sampun terang artinipun. Puniki wenten makudang-kudang imba utawi conto sasenggakan luiripun :
  1. Buka bantene, masorohan; suksemanipun : sakadi anake sane madue perusahaan, wantah ngutamayang panyamaanipune kewanten makarya irika.
  2. Buka bangken gajahe, joh-joh mabo; suksemanipu : sakadi anake sane mapangkat ageng utawi anak sane sugih, yening katiben antuk sengkala, ortinipune maideh-idehan rauh ka jaba kuta.
  3. Buka batun buluane, nglintik tuah abesik; suksemanipun : kaucapang ring anake sane nenten madue nyama wiadin timpal, wantah ipun padidian.
  4. Buka be banone, dawanan bungut; suksemanipun : sakadi anake sane demen nuturang wiadin ngraosang omong timpal ring anak lian.
  5. Buka benange, kadung suba macelebang; suksemanipun : sakadi anake sane kadung ngambil pakaryan, nyalah-nyalah yening ipun makarya nenten jantos puput.
Inggih aminuka dumun saking titiang indik sasenggakan. Suksema!!(*bb/bsp)



Pupulan Sesonggan Bagian 2

Nyambung malih ring postingan tiange ne dumun, Pupulan Sesonggan Bagian 1 na mangkin tiang malih ngicenin makudang-kudang conto sesonggan sane seosan. Minab yen wenten sameton blogger sane durung tatas uning ring sesonggan, dados malih ngawacen artikel tiange indik Sesonggan (Perumpamaan Bali) ring link puniki. Inggih lanturang malih ring bagian conto-conto sesonggan.
  1. Ada kacang ninggal tungguana, suksemanipun : nenten wenten anak alit wiadin sisia, jaga ngutang sesolahan bapa wiadin guru
  2. Ada mas slakane tan paguna, suksemanipun : skadi anake sane polih barang sane anyar, raris barange sane let (yang lama) tan karunguang
  3. Angkabin barong somi, suksemanipun : matakut timpal (anak) antuk sane aeng-aeng, kewanten sejatin ipun nenten wenten punapa punapi
  4. Anyar-anyaran gerang bangkuk, suksemanipun : sakadi anake sane ngwangun saluiring wawangunan, ring pangawitne kewanten ipun gati (anteng), wawu asasih kewanten sampun macet (tan kalinguang)
  5. Awak baduda nagih madanin garuda, suksemanipun : sakadi anake sane tiws wiadin mamacul, mamanah ipun mamadanin (nandingin) anake sane sugih wiadin anake sane mapangkat tegeh
  6. Bangkung kapitikan, suksemanipun : sakadi anake sering marikosa anak, ring arep anake akeh, ipun ngliep mapi tan uning, yening rikala suung ipun parikosa nyagrep
  7. Bapane macan panakne samong, suksemanipun : upami bapaneipune duweg dados balian, sinah pianakipune taler dueg ngusadanin
  8. Bikase mabuyung sampi, suksemanipun : sakadi anake sane mapi-mapi kasih tur wawuh, kewanten sujatinipun tan pegat ngamahin
  9. Be nantangin talenan, suksemanipun : sakadi anake sane sampun kaon maprakara, raris ipun nangtangin anake sane menang; wiadin sakadi anake sane sampun janten iwang nangtangin sane patut
  10. Bedeg gegantungan, suksemanipun : sakadi anake sane ngambel pakaryan utawi dados pagawe pamrintah, wiakti nenten jenek, yening iwang antuka raris pagawe punika kakisidang wiadin kasuudang
Inggih amunika dumun. Tiang sampun kenjel ngetik uli tuni. Benjang-benjang malih lanturang tiang. Suksema!!(*bb/bsp)


Cecangkriman


Cecangkriman inggih punika cacimpedan sane mabentuk lagu utawi tembang. Biasane ngangge tembang madya utawi pupuh. Umumne ngangge Pupuh Pucung. Minab wenten sametin sane durung polih ngwacen indik cacimpedan, dados driki malih wacen ring artikel tiang indik Cacimpedan. Kenten taler yang durung polih ngwacen indik Pupuh, niki link ne artikel indik Geguritan Utawi Tembang Pupuh. Inggih ring sor niki wantah conto-conto utawi imba Cecangkriman :

Cecangkriman :
  1. Bapa Pucung,
    Indeng-indeng di alas gunung,
    Panake koryak-koryak,
    Di kayune ya padingkrik,
    Basang pelung,
    Tendase majajambulan.
  2. Berag landung,
    Ngelah panak cenik liu,
    Memene slelegang,
    Panak ne jekjek enjekin,
    Menek tuun,
    Mememne gelut gisiang.
  3. Jalan buntu,
    Tan masepak nolor terus,
    Nyen makeneh mentas,
    Apang elahang agigis,
    Musti blenggu,
    Majalan ditu magaang.
  4. Ia majujuk,
    Katumbak enu majujuk,
    Ane numbak ebah,
    Laut ngandang ngulintik,
    Bes kadurus,
    Pangencele mametelang.
  5. Kaki Pucung,
    Awak bunter maretungtung,
    Basange anginan,
    Sing paek ye ninjakin,
    Uber kepung,
    I kaki incang-incangang.

Sasimbing (sindiran)

Sasimbing puniki kruna (ucapan) papiringan sane pedes suksmanipun, makardi sang kasimbing jengah wiadin sebet, riantuk ngrasa ring dewek katiban sasimbing punika. Sasimbing puniki sering kaucapang ring ajeng sang kasimbingin, ngangge kruna paimbangan sane sada silib artinipun, indik kalh polah janma, barang kalih buron. Ri asapunine sasimbing puniki ngangge kruna nungkalik, upami : belog kaucapang ririh, lekig utawi kiul kaucapang anteng. Wenten makudang-kudang sasimbing sane mawangun gancaran miwah tembang upami : "Kadang tan tinolihin", tegesipun : Anake sane ngutamayang dewek ipune kewanten, nenten nglinguang nyama braya.

Ring sor puniki wantah conto-conto sasimbing :
  1. Be di pongerangan baang ngeleb; tegesipun : Sakadi anake ngambil anak istri bajang, sampun kakeniang, rikala ipun lenge, anak istri punika malaib.
  2. Bas tegeh baan negak, dilabuhe baonge elung; tegesipun :Sakadi anake polih pangkat tegeh, raris nyeled pipis utawi korupsi, ipun katara raris kausanayang makarya tur ipun salah maukum.
  3. Yadin amunapi tegeh pakeber badudane, diulungne masih ka taine; tegesipun : Yadin amunapi ageng anake polih kabagian, yening sampun ganti surud kasadianipun, taler ipun mawali tiwas sakadi kuna.
  4. Semunne nyukcuk langit; tegsipun : Kaucapang ring anake sane sombong.
  5. Sadueg-dued semale makecos, pasti taen ulung; tegesipune : Asapunapi je ririh anake, pasti ipun taen iwang utawi salah.

Conto sasimbing sane mawangun tembang (Geguritan Sampik Ingtay):
  1. Aduh beli to kenkenang, uh ban ento ene danda juang beli, sang ja nganggeh nyang adauh, ya I Babah nampi danda, ya I Nyonyah masasimbing saking saru, "Cangkeme tempuh timbungan, sikep galak desek pitik".
  2. Dadi beler tong nyak ngamah, jeneng jelma betek malu layah duri, amonto ya raris pesu, ka kantor padidian, bane keweh makita pacang mabanyu, yan majujuk meh katara, yan nyongkok awake pelih.

.

 Cecangkitan (Olok-Olok)

Cecangkitan puniki lengkara sane nginter artinipun. Katahipun cecangkitan puniki, kaucapang rikala magegonjakan. Ring asapunapine wenten taler anggena melog-melog timpal. Puniki cecangkitan luiripun:
  1. Tain cicing dengdeng goreng jaen, tegesipun: 1. Yening dengdenge gorreng sinah jaen, 2. Yening tain cicinge sinah nenten dados goreng.
  2. Padange tusing dadi arit, tegesipun: 1. Padange sinah nenten sida dados arit, 2. Yening padange abas antuk arit janten dados.
  3. Anake negen tumbak tusing dadi, tegesipun: 1. Yening anake rikala negen napi-napi raris tumbak, janten nenten dados, 2. Kewanten yening anak makta tumbak tegena punika dados.
  4. Rumus hitungane makejang sukeh, nanging jalanne makejang tawang, tegesipun: 1. Yening rumus hitungane wiakti sulit (tan kauningin), kewanten jalanne (rurunge) sami kauningin, yening jalan hitungane nenten kauningin.
  5. Kapal melabuh madelod, ngenah badajanne, tegesipun: 1. Yening cingakin kapale saking kaler, sinah sisin kapale balerne sane kanten.
  6. Ia gelem antudne tusing dadai jalananga, tegesipun: 1. Yening entude sinah nenten dados jalanang, sane kajalanang batis, boya ja entud.
  7. Tiang suba lepas uli sekolah, tegesipun: 1. Ipun nglepasin sekolah artine nenten masekolah.
  8. Kompek matali gandek, tegesipun: 1. Yening kompeke sane matali nika mawasta gandek.
  9. Beh, kakolongane tusing dadi gelekang, tegesipun: 1. Kakolongane sinah nenten dados gelekang, kewanten yening ajeng-ajengan janten dados gelekang.
  10. Awak suba bajang enu masih manyonyo, tegesipun: 1. Makasami anake madue nyonyo, boya ja nyeseo nyonyo sakadi anak rare




Sasemon

Sasemon punika taler sakadi Sasimbing, sakewanten lebih alus lengut tur nudut kayun. Sasemon puniki wenten sane mawangun tembang, utawi gancaran, sakadi ring sor puniki :
        Taruna : "Beh apa kaden melah bunga nagasarine ento, yan tiang
                       maan ngubuhin bungane ento, ap kaden liang atine".
        Taruni : "Apa perlune ngubuhin kayu buka kene, ane tanpaguna, tulen
                      bena lakar tuyuh nyampatang luu sai-sai".

Wenten sasemon negngge Sekar macapat (Sekar alit) luir ipun :

Pupuh Ginada
  1. Tiang mriki ngrereh "bunga"
    kocap wenten "cempaka putih"
    iriki genahnya reko
    kocap luih warnanipun
    nawang tranggana ngadika
    inggih wiakti
    "nanging dereng masamaya alap".
  2. Sasendone kadi ring sipta
    "dumadak ya ulung jani
    delima wantane ento
    akayih tengahin dalu
    titiang masesangi nyangga
    baan kacing
    titiang suka metoh jiwa".
  3. Raden Galuh weruh sipta
    kenyung raris nyaurin
    "lamun paingenan reko
    madia latrine ya ulung
    di pekene ya tibeninnya
    soring bingi
    manakti apang pasaja".

Pupuh Sinom
  1. Masasemonteken roanga
    "langite jani tingalin
    ening tan pajalada kakelike ngasih-asih
    bedak mabudi warih
    dijaha paraning jauh
    dumadak Widhine ica
    ngujanin i tadahasih
    apang suud sedih ya maselselan".
  2. Kakantenane angucap
    patut sapunika Gusti
    yan kadi unduk mapikat
    "pacengcengin glatik putih
    mula ratuning paksi"
    I Ratnasemara sumaur
    "apan pacengcenge nista
    glatik cambra tan mapelik mamikatin
    glatik bunga saking Kendran".
  3. Ni Ketut tau ring sipta
    ngwales dane nimonin
    mangucap teken timpalnya
    "panese embok tan sinipi
    wiakti sasih kapat mangkin
    kaklike mengalup-alup
    suarane mangolasang manah
    mederan mangkalih warih
    nanging takut
    majalan rikat baan daya".
  4. "Yan gantasang te majalan, tuara ko ya pacang ketil
    kamandalu maodaka
    "Ni Sewambra manyaurin
    tan pendah mengalap sari
    sepak joan anggon nyukcuk
    katike ilidan dona
    baong sengel mangulingling
    pineh layu
    kotek baan joan belah".

Sesapan (Doa)

Sesapan tegesnyane nyapatin, sane matetujon nglungsur karahajengan, mangda nenten keni bencana. Kawentenan sesapan manut tetujonnyane, minakadi :

Sesapan ngebah taru :
"Ratu Betara Sangkara, titiang nglungsur taru druene, mangda titiang nenten tulah."

Sesapan suara kedis caak :
"Kakasang ngengsut di ambune."

Sesapan si jabang bayi :
"Ratu Paduka Betara Brahma, icenin raren titiange pasikepan mangda ipun setata rahayu."

Sesapan sabeh bales :
"Kaki-kaki bentuyung sampunang kasiabange titiang, tiang cucun kakine."

Sesapan ngentasin genah tenget :
"Jero sane nuenang genahe/margine, tiang nyelang genahe icen tiang karahajengan."

Sesapan ri kala sungkan, wenten dongkan mamunyi :
"Ih, apa not iba yening ada anak makeneh rahayu, mai, sakewala yening tusing rahayu bakal cotot matane apang kanti buta."

Sesapan ri kala mireng suaran paksi tuhu-tuhu :
"Buncul agung sepit semprong tuara bakatanga."

Sesapan mabebaosan, masuara cek-ceke :
"Sidi Saraswati."

Sesapan angin baret, angin nglinus :
"Ratu Betara Bayu sampunang nglintangi riki, santukan titiang akeh madue anak alit."

Sesapan ri kala ngadol ingon-ingon utawi wewalungan :
"Ratu Sang Hyang Rare Angon, ingon-ingon I Ratu adol titiang nglungsur karahajengan."

Sesapan ri kala molihang pantun duene :
Ratu Betara Sri, Titiang ngaturang yadnya, mangda titiang rahayu."

Sesapan ri kala Tumpek Uduh :
"Kaki-kaki dadong jumah?
Jumah.
Anak engken?
Anak Gelem.
Gelem Engken?
Gelem nged.. nged.. nged.. nged.."


Kaketus saking :
*Buku Sekarura Bahasa BaLI



Tetingkesan (Litotes)

Tetingkesan punika kruna basa ngandap kasor, tegesnyané bebaos sané kanggén ri kala ngandapang raga. Tetingkesan lingganipun “tingkes”, sane madue arti ringkes, ngalitan (mengecil/merendahkan) sane polih pangiring “an” dados tetingkesan.

Puniki tetingkesan luir ipun :
  1. Durusang malinggih Pak, kanggéang nénten wénten genah malinggih!” Kawéntenannyané, genah sané wénten becik, kursi empuk saha resik.
  2. Mai malu madaar, kangoang uyah- uyah dogen.
  3. Dini suba cening nginep, nanging kangoang kene bapa lacur, umah tusing gelah, pasarean alah umah bangkung.
  4. Ampurayang pisan ratu, sapuniki kaulane kalintang nambet.
  5. Sameton sami, duaning sampun galah, ngiring ka perantenan, kanggéang ulamnyané tasik-tasik manten!
  6. Durusang ajeng dumun wedange, kanggeang toya-toya kemawon!
  7. Cening de nyen ngopak, bapa tusing ngidayang maang apa-apa, sakewala maan singgah” dogen


Peparikan (Pantun)

Peparikan pateh sakadi Wewangsalan, kewanten binanipun weangsalan punika wantah kalih palet (carik), yening peparikan kawangun antuk petang palet dados apada (satu bait), taler mawirama miwah mapurwakanti. Peparikan puniki pateh sakadi "madah" ring kasusastran Indonesia. Yening sihang ipun minab sakadi "Pantun", antuk "ri", punika sering masilur dados "ntun", sakadi; sari, dados = santun. Peparikan, kruna lingganipun "parik", artinipun; awi (karang), polih pangiring "an" dados parikan, kadwipurwayang dados: peparikan, artinipun: awi-awian utwai reragragan.

Peparikan puniki taler sakadi sasimbing indik kahanan kalih polah janma, kawangun antuk lengkara petang carik dados apada (satu bait). Lengkarane sane riinan kalih carik dados "sampiran", lengkarane pungkuran sane kalih carik dados arti sejatine, saha mawirama purwakanti, (a-b, a-b). Purwakanti punika wenten tatiga, luiripun: Purwakanti sastra, Purwakanti basa, Purwakanti suara, sakadi:
  1. Purwakanti sastra
    Doyan liang ngandong kanji (a)
    depang tiang ngaba pitu (b)
    yan tiang ngelong janji (a)
    apang tiang kena tantu. (b)
    Aksara "ji" ring kruna "kanji", makanti ring "ji" ring kuna "janji".
    Aksara "tu" ring kruna "pitu", makanti ring "tu" ring kruna "tantu".
  2. Purwakanti basa
    Meli gabus duang kranjang
    lamben bodag sing ngenyakin
    yadin bagus mata kranjang
    enyen kodag mangenyakin.
    Mata "kranjang" makanti ring kruna duang "kranjang".
    kodag "ngenyakin" makan ti ring kruna sing "ngenyakin".
  3. Purwakanti suara
    Dengdenge kurma lua
    jaene ditu plapahin
    adeng-adeng magama tua
    gaene malu plajahin.
    Suara "a" ring kruna "tua", mapurwakanti ring "a" ring kruna "lua"
    suara "in" ring kruna "plajahin", mapurwakanti ring "in" ring kruna "plajahin"

Raos Ngempelin

Raos ngempelin, punika kruna sane dempet, tegesipun: kruna sane asiki maarti kakalih, sane asiki maarti sejati, sane asiki artinipun ngintar. Raos ngempelin puniki pateh sekadi cecangkitan, binanipun wantah akidik, kewanten suksmanipun pateh, wantah mangge rikala magagonjakan kewanten. Puniki wenten makudang-kudang raos ngempelin:
  1. Benang kamene, jaka di pangkunge, tegesipun: 1. Kamen antuk benang, jaka mentik di pangkunge, 2. Benang kamenen, ajaka di pangkunge.
  2. Lamun payu motonan, beli nyelingin, tegesipun: 1. Nyelengin = lakar maan celeng, 2. Nyelengin = ningalin sambilang nyeleng.
  3. Yang nguangun arja, tiang ngaluhin, tegesipun: 1. Dadi galuh, 2. Ngaluhin + juru aluh (nongos).
  4. Damar bedauh, mati kanginan, tegesipun: 1. Kanginan = genah ipun medangin, 2. kanginan = tempuh angin.
  5. Mamula kacang badaja, mentikne nglodlodang, tegesipun: 1. Nglodlodang = entikipun madlodlod, 2. Nglodlodang = sayan ngelodang.
  6. Ring dija palungane mangkin?, tegesipun: 1. Palungane = jaga lunga, 2. Palungane = pangamahan bawi.
  7. Napi kalih ditu?, tegesipun: 1. Kalih = dadua, 2. Kalih = ka alih.
  8. Ia madagang kamulanne suba telah, tegesipun: 1. Kamulane telah = sanggah kamulane kedas, 2. Kamulane telah = pokok dagangene sampun telas (rugi).
  9. Ida dimatuke simpang di pura, tegesipun: 1. Dimantuke = dawegne mantuk (budal), 2. Dimantuke = diman tuke.
  10. Madaarsanan malu dini, tegesipun: 1. Daar sanan = pesan madaar dini, 2. daar sanan = naar sanan



Tuma Teken Titih

Kacarita ada tuma, nongos di lepitan tilam anake agung. Ditu ia kapepekan amah, maan ngisep rah anake agung, kanti mokoh. Nanging I Titih nongos di selagan dingding anake agung. Dening ia ngiwasin I Tuma mokoh, lantas ia kema ngalih I Tuma. Satekede ditu, I Titih matedoh ngomong, “Inggih jero gede, angob pisan titiang, ngantenang jerone wibuh. Sinah jerone kapepekan ajeng-ajengan. Nanging titiang setata kakirangan amah, kantos titiang berag sapuniki. Yan wantah jerone ledang, titiang sareng iriki. Mangda titiang dados sisian jerone. Titiang pacang ngiring sapituduh jerone.”

Masaut I Tuma, “Ih Titih, lamun suba pituwi saja buka omong caine, bapa nyak ngajak cai dini. Kewala ene ingetang pitutur bapane. Eda pesan cai ngulurin lobhan keneh caine. Anake ane lobha, tusing buungan lakar nepukin sengkala. Lenan teken ento, tusing pesan dadi iri hati, kerana doyan liu ngelah musuh. Apang cai bisa malajahang kadharman.” Keto pamunyinne I Tuma teken I Titih.

Jani suba ia makakasihan. I Titih lega pesan kenehne dadi sisian I Tuma. Sedek dina anu, ida anake agung merem-mereman. Saget I Titih lakar ngutgut. Ngomong I Tuma, ”Ih Tittih,eda malu ngutgut ida anake agung. Kerana ida tonden sirep.” Nanging I Titih bengkung, tusing dadi orahin, lantas ia sahasa ngutgut ida anake agung. Ida anake agung tengkejut lantas matangi.

Ditu ida ngandikang parekanne ngeliin I Titih. Parekanne lantas ngeliin. Mara kebitanga di batan tilame, tepukina I Titih lua muani, lantas matianga. Buin alih-alihina, tepukina I Tuma di lepitan kasure. Ditu lantas matianga. Pamragat mati I Tuma ajaka I Titih. Keto katuturan anake ane lobha, tusing bisa ngeret indria, tan urungan lakar nepukin sengkala.

Cupak Teken Grantang

Kaambil saking http://rare-angon.blogspot.com

Ada katuturang satua, I Cupak teken I Grantang. Menyama ajaka dadua. I Cupak ane kelihan, I Grantang ane cerikan. Goba lan parilaksanan kaka adi punika doh pesan matiosan. I Cupak gobane bocok, kumis jempe, kales, brenges, lan bok barak keke alah duk. Basang gede madaar kereng pesan. Nanging joh bina ajaka adine I Grantang. I Grantang pengadegne lanjar, goba alep bagus, asing-asing anake ngantenang makejang ngedotang. Kemikane manis tur anteng magarapan.

Kacarita sedek dina anu, i Cupak ajak I Grantang matekap di carike, I Grantang matekap nututin sampi, nanging i Cupak satate maplalianan dogen gaene. Tusing pesan I Cupak ngrunguang adine magae. Disubane I Grantang suud matekap mara I Cupak teka uli maplalianan. Yadiastun keto bikas beline masih luung penampene I Grantang. I Grantang ngomong munyine alus tur nyunyur manis.

"Kemu beli malunan mulih tiang lakar manjus abedik. "Icupak masaut gangsar,"Lamun keto kola lakar malunan mulih, adi. I Cupak laut majalan mulih. Disubane joh liwat uli sig I Grantange manjus, ditu lantas I Cupak makipu di endute kanti awakne uyak endut. Disubane keto, I Cupak nutugang majalan ngamulihan saha jlempah jlempoh.

Kacarita ane jani i Cupak suba neked diwangan umahe, ditu laut I Cupak gelur-gelur ngeling. Meme bapane tengkejut ningehin eling panakne tur nyagjag laut nakonin,"Cening-cening bagus Wayan Cupak anake buka cening ngudiang cening padidi mulih buine blolotan, men adin ceninge I Made Grantang dija?" Disubane keto petakon reramane, laut masaut i Cupak sambilange ngeling. "Kene ento bapa lan meme Kola anak uli semengan metekap dicarike I Grantang anak meplalianan melali dogen uli semengan, buine ia ento ngenemin anak luh-luh dogen gaene". Mara monto pesadune I Cupak bapane suba brangti teken I Grantang. Suud keto laut bapane ngrumrum I Cupak. "Nah, mendep dewa mendep, buin ajahan lamun teka I Grantang lakar tigtig bapa, lakar tundung bapa uli jumah. "Lega pesan kenehne I Cupak ningeh bapane pedih teken I Grantang. Apang tusing ketara dayane jele, I Cupak pesu ngaba siap lakar mabongbong.

Ane jani kacaritayang I Grantang suba ngamulihang uli carik genah ipun magarapan. I Grantang majalan jlempah jlempoh kabatek baan kenyelne kaliwat. Tan kacaritayang malih kawentenang ipun ring margi, kancit sampun neked jumahne. Duk punika sahasa bapane teka nyag jag nyambak tur nigtig. Bapane ngomong bangras. Makaad cai makaad Grantang, nirguna bapa ngelah panak buka cai. Goba melah, solah jele, tur tuara demen nyemak gae, men nyak adung goba ajaka bikase? Dija cai maan ajah-ajahan keto? " I Grantang ngeling sigsigan merasa teken dewek kena pisuna. Ngomong laut I Grantang, sakewala raosne pegat-pegat duaning sambilange ngeling. "Nah, Bapa yan suba keto keneh bapane, nundung anake buka tiang....uli jumah, tiang nerima pesan tresnan bapane ento. Dumadak-dumadik sepatilar tiang uli jumah bagia idup bapa miwah belin tiange I Cupak.

Amonto I Grantang ngomong teken bapane laut majalan makaad uli jumah. Lampah laku pajalane I Grantang tur jlempah-jlempoh pejalane kabatek baan naanang basang seduk. Sakit saja kenehne I Grantang ningeh munyin bapane abuka keto. Disubane joh I Grantang liwat, teka lantas I Cupak turnakonang adine I Grantang. "Meme...Bapa...adin kolane dija? " Mesaut laut bapane, "Adin I Dewane suba tigtig bapa tur suba tundung bapa uli jumah. Jani apang tawange rasan mayusne ento." Mara keto pasaut bapane I Cupak ngeling gelur-gelur tur mamunyi : "Ngudiang ketang bapa adin kolane. Dadi tundung bapa adin kolane, dija jani alih kola adin kolane ...anak kola ...anak ... anak kola ane mayus magae, ngudiang adin kolane tundung bapa?" Ningeh munyin I Cupake keto dadi engsek memen bapane, merasa teken dewek pelih. "Jani kola lakar ngalih adin kolane, lakar abang kola takilan!" Masepan-sepan memene ngaenang I Cupak takilan.

Kacarita jani I Cupak ninggal umah ngalain memen bapane lakar ngruruh I Grantang. Gelur gelur I Cupak ngaukin adine Adi....adi....adi..Grantang ... ene kola teka ngaba takilan ..Adi!" Cutetin satua, bakat bane ngetut adine, tepukina ditengah alase. Ditu lantas I Cupak ngidih pelih teken adine. Adi jalan mulih adi, ampurayang Beli adi, jalan adi mulih!" I Grantang mesaut alot, "kema suba Beli mulih padidi, depang tiang dini naenang sakit ati, diastun tampin tiang mati.Apa puaran tiange idup tusing demenin rerama. "Disubane buka keto pasaut adine laut nyawis nimbal natakin panes tis, suka duka ajak dadua. Jalan mareren malu adi, kola kenyel pesan nugtug adi uli jumah. Ene kola ngaba takilan, jalan gagah ajak dadua. "I Cupak lantas nunden adine ngalih yeh, "Kema adi ngalih yeh, kola nongosin takilane dini. "Nyrucut I Grantang ngalih yeh. Disubane I Grantang liwat joh, pesu dayane I Cupak lakar nelahang isin takilane. Sepan-sepan I Cupak ngagah takilane tur daara telahanga. Sesubane telah, kulit takilane besbesa tur kacakanga di tanahe. Nepukin unduke ento lantas I Cupak dundune teken I Grantang. I Cupak mani-mani kapupungan. "Aduh adi apa mesbes takilane ne? Bes makelo Adi ngalih yeh kanti takilane bakat kalain pules. Nah ne enu lad-ladne jalan gagah ajak dadua."Disubane ada raosne I Cupak buka keto laut masaut I Grantang, "Nah daar suba beh, tiang tusing merasa seduk" I Cupak medaar padidiana, ngesop nasi nginem yeh, celekutang nitig tangkah, suud madaar I Cupak taagtaag nyiriang basang betek.

Disubane I Cupak ajaka I Grantang maan mareren laut ngalanturang pejalane. Kacarita ane jani I Cupak lan I Grantang neked di Bencingah Puri Kediri. Di desane ento suung manginung, tusing ada anak majlawatang. Pejalane I Cupak ngetor kabatek baan jejehne, jani suba neked kone ia di jaba puri Kedirine, ditu I Cupak nepukin peken. Di pekene masih suung manginung tuah ada dagang nasi adiri buina mengkeb madagang. Ngatonang unduke buka keto, ditu laut I Grantang metakon teken dagange ento, "Nawegang jero dagang nasi, titiang matur pitaken, napi wastan jagate puniki, napi sane mawinan jagat druwene sepi. I Dagang nasi masaut, Jero, jero anak lanang sareng kalih jagate puniki mawasta jagat Kediri. Jagat puniki katiben bencana. Putran Ida Sang Prabu kapandung olih I Benaru. Ida Sang Prabu ngamedalang wecana, sapasiraja sane mrasidayang ngrebut putran gelahe tur mademang I Benaru jagi kaadegang agung ring jagate puniki. Wantah putrin Ida sane kaparabiang ring sang sane prasida mademang I Benaru.

I Cupak masaut elah, "ah raja belog kalahang Benaru. Kola anak suba bisa nampah Benaru. Eh dagang, kema orahang teken rajabe dini. Bantes Benaru aukud elah baan kola ngitungang". I Grantang megat munyin beline, "Eda Beli baas sumbar ngomong, awak tusing nawang matan Benaru. Patilesang raga beline digumin anak. "Sakewala I Cupak bengkung ngelawan tur tuara ngugu munyin adine. "Adi baas setata, adi mula getap. Kalingke nampak ngadeg gumi, baanga ngidih nasi dogen beli nyak ngematiang I Benaru. "I Grantang nglanturang munyine teken jero dagang nasi. "Inggih jero dagang nasi durusang uningan marika ring Ida Sang Prabu. Titiang jagi ngaturang ayah, ngemademang ipun I Benaru. "Duaning asapunika wenten pabesene I Grantang, laut I dagang nasi gagesonan nangkil ka puri. Nganteg ring puri I Dagang nasi matur, "Inggih Ratu Sang Prabhu sasuhunan titiang, puniki wenten tamiu sareng kalih misadia jagi ngemademang I Benaru.

Riwawu asapunika atur I Dagang nasi, premangkin ledang pisan pikayun Ida Sang Prabhu. Raris Ida Sang Prabhu ngandika, " Ih memen cening, yen mula saja buka atur men ceninge, lautang kema tunden ia tangkil ka puri apang tawang gelah!" Sesampune wenten renteh wacanan Ida Sang Prabhu,'I Dagang nasi jek ngenggalang ngalih I Cupak teken I Grantang. Nganteg di peken dapetange I Cupak masehin lima mara suud madaar. I Grantang kimud kenehne nepukin beline setata ngaba basang layah. I Grantang laut ngomong. "Nawegang jero dagang belin tiange iwang ngambil ajengan, mangda ledang jero ngampurayang santukan titiang nenten makta jinah. "I Cupak masaut, "Saja kola nyemak nasi, ampura kola, tusing sida baan kola naanang basang layah. "I Dagang nasi anggen kenehne ningeh munyine I Grantang. Munyin I Cupake tan kalinguang. I dagang nasi laut nekedang pangandikan Ida Sang Prabhu, apang tangkil ajaka dadua. Sesampune katerima pabesene punika olih I Dagang nasi.

Teked di puri hut panjake pati kaplug melaib, kadene I Benaru. Kacrita sane mangkin I Cupak lan I Grantang sampun tangkil ring ajeng Ida Sang Prabhu raris Ida Sang Prabhu ngandika, "Eh cai ajak dadua cai uli dija, nyen adan caine?" I Grantang matur dabdab alon,"Nawegang titiang Ratu Sang Prabhu, titiang puniki wantah jadma nista saking jagat Gobangwesi. Munggwing wastan titiang wantah I Grantang, niki belin titiange mewasta I Cupak. Titiang jagi matetegar nyarengin sewayambarane puniki ngamademang ipun satrun palungguh I Ratu I Benaru. Konden suud aturne I Grantang saget sampun kasampuak olih I Cupak, tur ngomong kene, "Kola seduk, kola lakar ngidih nasi abetekan. Basang kolane layah. Suud keto I Cupak ajak I Grantang mapamit. Ida Sang Prabhu mapaica cincin mas masoca mirah teken pajenengan puri Kediri. Ento pinaka cirin I Grantang dados utusan.

Gelisang carita I Cupak kebedak-bedak, lantas nepukin telaga linggah tur bek misi yeh. Ditu lantas I Cupak morahang teken adine. "Adi...adi Grantang mareren malu, kola kenyel tur bedak pesan, kola lakar ngalih yeh ditu di telagane. "Kasautin laut pamunyin Beline teken I Grantang, "Eda beli ditu ngalih yeh, ento anak yeh encehne I Benaru tusing dadi inem, beli, "Ningeh munyin adine keto I Cupak makesiab ngatabtab muane putih lemlem. I Grantang nutugang majalan. I Cupak buin nepukin gegumuk maririgan. Ditu buin I Cupak matakon teken adine, "Nyen ane ngae gunung gunungan dini adi?" sambilange maklemir I Grantang nyaurin petakon beline. "Ene tusing ja gunung-gunungan beli, ene mula tuah taine I Benaru beli. I Cupak makraik baan takutne. "Aduh mati jani beli adi, yan mone geden taine, lamun apa ja gedene I Benaru, adi?. Jalan suba mulih adi. I Grantang nguncangang majalan ngungsi Guane I Benaru. I Cupak bejag bejug nutug I Grantang.

Kacaritayang sane mangkin I Cupak ajaka I Grantang suba teked di sisin goane I Benaru. Umah I Benaru ditengah goane. I Cupak laut ngomong " Adi .... kola tusing bani tuun adi, adi dogen suba masiat ngelawan I Benaru. Kola ngantiang dini. Kewala ngidih olas kola teken adi, tegul kola dini adi! " Bincuh I Grantang ngalih tali anggona negul I Cupak. Disubane suud I Grantang negul beline, I Grantang laut matinget teken beline, "Ene tingalin tumbake buin ajahan beli, yan bah kangin tumbake ento pinaka cirin tiange menang di pasiatan. Sakewala yan bah kelod tumbake, ento pinaka cihna tiang kalah. "Suud matinget, teken beline, I Grantang laut tuun ka goane.

Teked di tengah goane dapetange I Benaru nagih melagandang Raden Dewi. I Benaru matolihang tur matbat I Grantang. " "Eh iba manusa cenik, wanen iba teka mai, Yan iba mabudi idup matulak iba mulih ! " Disubane keto ada munyine I Benaru, laut I Grantang masaut wiring, "Apa..apa..orahang iba Benaru? Kai teka mai mula nyadia lakar ngalahan iba, tur kai lakar mendak Raden Dewi putran Ida Sang Prabhu. Kai lakar ngiring Ida ka Puri. " I Benaru lantas ngelur brangti laut ngamuk. Ditu I Grantang mayuda ngajak I Benaru. Sangkaning kepradnyanan I Grantang mayuda, dadosne I Grantang polih galah nebek basangne I Benaru nganti betel antuk keris pajenengan purine. I Benaru ngelur kesakitan basangne embud mebrarakan.

Kacrita ane jani, I Cupak baduuran ningeh I Benaru ngelur. I Cupak pesu enceh, tur tategulane telah tastas. Ditu lantas I Cupak inget teken patingetne I Grantang. Ningalin lantas tumbake ento suba bah kangin. Mara I Cupak masrieng kenehne liang. I Cupak laut ngomong, " Adi...adi Grantang antos kola Adi. Yan kola tusing maan metanding ngajak I Benaru jengah kola, Adi. " I Grantang laut ngomong uli tengah goane teken I Cupak. "Beli tegarang entungan tali bune ka goane! "Disubane ada raos adine buka keto laut I Cupak ngentungan taline ento. Ditu lantas I Grantang ngelanting ditaline apan ngidang menek. I Grantang sambilange ngamban Raden Dewi. Disubane I Grantang lan Raden Dewi nengok uli ungas goane, gegeson pesan I Cupak nyaup Raden Dewi tur sahasa megat tali ane glantingine baan I Grantang. Duaning tali bune kapegatang, ditu lantas I Grantang ulung ngeluluk ditengah goane. Semaliha Ida Raden Dewi kasirepang olih I Cupak di batan kayune satonden megat tali bune ento.

Kacaritayang sane mangkin, I Cupak ngiring Ida Raden Dewi nuju Puri Agung. Tan kacaritayang kawentenang Ida kairing baan I Cupak ring margi, kancit sampun rauh Ida ring Puri. Ida Sang Prabhu ledang kayune tan siti, digelis raris nyaup Raden Dewi. Ida Sang Prabhu raris matemuang Ida Raden Dewi teken I Cupak sawireh I Benaru suba mati. I Cupak matur ring Ida Sang Prabhu, I Grantang sampun padem, kapademang oleh I Benaru. I Cupak mangkin kaadegang Agung ring Puri.

Kacaritayang sane mangkin I Cupak sampun madeg Agung ring Puri. Makejang panjake keweh, duaning sasukat risapa madeg I Cupak sadina-dina panjake makarya guling.

Sane mangkin iring menengang abosbos cerita sapamadeg I Cupak, iring sane mangkin caritayang kawentenang I Grantang ring tengah goane. I Grantang grapa-grepe bangun nyelsel padewekan. "Raturatu Bhatara nguda kene lacur titiange manumadi?" Kasuen-suen dados metu rincikan naya upanaya I Grantang bakal nganggon tulang I Benarune menek. I Grantang ngragas tur makekeh pesan menek. Sakewanten sangkanin sih Ida SangHyang Parama Kawi I Grantang nyidayang ngamenekang. I Grantang jadi suba neked di baduuran. I Grantang lantas nugtugang pejalane nuju je puri. Gelisang carita I Grantang suba neked di puri. Ditu lantas I Grantang ngomong teken panyeroan I Cupake, "Jero tulung titiang, titiang jagi tangkil matur ring Ida Sang Prabhu. "Malaib panyroane ka puri nguningayang unduke punika teken Raden Cupak. I Cupak inget teken adine ane enu digoane. Ditu lantas I Cupak ngelur nunden panjake ngejuk tur ngulung aji tikeh tur ngentungang ka pasihe.

Kacarita buin manine Pan Bekung memencar di pasihe ento. Uling semengan nganti linsir sanje memencar tusing maan be naang aukud. Ngentungan pencar tanggun duri, pencare marase baat, mare penekanga bakatange tikeh. Buin Pan Bekung mulang pencar buin bakatange tikehe ane busan. Gedeg basang Pan Bekunge, laut tikehe abane menek tur kagagah. Makesiab Pan Bekung ningalin jadma berag pesan. Pan Bekung enggalang ngajak anake ento kepondokne. Teked dipondokne pretenina teken Men Bekung. Sewai-wai gaenange bubuh, uligange boreh. Dadosne sayan wai sayan misi awakne I Grantang. Dadi kendel Pan Bekung ajak Men Bekung iaan unduk panak truna tur bangus. Di subane I Grantang seger ditu lantas I Grantang ngae tetaneman. Megenepan pesan bungane tanema. Disubane bungane pada kembang, I Grantang ngalap bungane ento tur adepa teken Men Bekung ka peken. Sadinadina saja geginane I Grantang metik bunga lan Men Bekung ngadep.

Kacarita ane jani ada wong jero uli puri Kediri lakar meli bunga. Makejang bungane Men Bekung belina baan wong jerone ento. Disubane suud mablanja lantas wong jerone ento ka puri ngaturang bunga. Bungane ane kaaturang katerima olih Ida Raden Dewi. Mara kearasan oleh Raden Dewi dadi merawat rawat anak bagus dibungane.

Eling lantas Ida teken I Grantang anak bagus ane ngamatiang I Benaru. Ida Raden Dewi raris metaken teken wong jerone. "Eh Bibi bibi Sari dija nyai meli bungane ene?"buin mani ka pasar apang kacunduk teken dagang bungane ene." Manine kairing Ida Raden Dewi lunga, matumbasan ka pasar.Gelisang carita raris kapanggih Men Bekung nyuun kranjang misi bunga mewarna warni. Raden Dewi raris nampekin. Kagiat Raden Dewi nyingak bungkung mas masoca mirah ane anggone teken Men Bekung. Bungkunge ento wantah druwen Ida Sang Prabhu lingsir, ane kapicayang teken I Grantang. Ngaksi kawentenane punika, raris Raden Dewi ngandika teken Men Bekung. "Uduh Meme, titiang matakon, dija umah memene?' Ajak gelah melali kema ka umah Memene apang gelah nawang. " Gelisang carita Ida Raden Dewi sampun neked di pondok Men Bekung. Pan Bekung kemeg-megan sinambi ngadap kasor saha nyambang sapangrauh Ida Raden Dewi. Ningeh Bapane makalukang tur epot laut I Grantang nyagjag. Ditu lantas I Grantang matemu teken Raden Dewi. Rikanjekan pinika Ida Raden Dewi nyagjag tur mlekur I Grantang sinambi nangis masasambatan, "Aduh Beli mgudal las beli ngutiang tiang. Ngudiang beli tusing ka puri tangkil ring Ida Sang Prabhu." Sasampune wenten ketel wacanan Ida Raden Dewi raris I Grantang nyawis tur matur dabdab alon, ngaturan parindikan pajalan sane sampun lintang.

Kacaritanyang mangkin I Grantang sareng Ida Raden Dewi suba neked di puri. Sang Prabhu maweweh meweh ledang kayun Idane nyingak putrane anut masanding ajaka I Grantang. Kacaritayang mangkin I Cupak katundung uli puri. I Grantang mangkin kaadegang agung ring puri. Sasukat I Grantang madeg agung, jagate gemuh kerta raharja. Panjake sami pada girang pakedek pakenyung duaning suud ngayahin raja buduh.





SEKAR RARE

1. Pul sinoge

Pul sinoge jukut timbul basang gede,
Be nangka duren sentok belog,
Tang simarang sotong biu bunut,
Siloktat boni, bonine gadang ngatat,
Celempung bulun sambuk dongke,
I dadong nyelek base. 

2. Maplayanan

Bareng-bareng jani majalan
Ajak timpal lakar mapalyanan
Kema mai saling kaukin
Ajak liu saling enderin
Diumane malaib-laiban
Masambilan ngaba panyapungan
Keneh liang nutugang pejalan
Diapin ejoh kenjel tan kerasa. 

3. Jung-Jung Prit

Jung jung prit 
Caratan jumprat jumprit
I kacong nyelek ejit
Tang ting tang brot
Kucar kacir kucar kebrot! 

4. Panglong

Dija bulanē sing ngenah uli ibi ?
Ia jani pules, rē majalan ejoh gati 2x

Uli dija bulanē majalan, kaki ?
Uli tanggu kangin teked kauh, kēto cening 2x

Pidan lakar bangun bulanē tur mai ?
Lamun ilang kenyelnē ya teka lakar buwin 2x


5. Kaki Uban

Kaki kaki to nguda mabok
Di beten cunguhe ken dijagute
Neked ka pipinne bek misi ebok
Buin putih buka kapase

Apa kaki to mula keto
Mabulu uling di mara lekade?

Tusing cening kaki majenggot reko
Kaki tua mara ya mentik

6. Curik-curik

Curik curik sementla alang-alang
boko-boko tiang meli pohe
Aji satak aji satus keteng
Mara bakat anak bagus peceng enjok-enjok


7. Katak Dongkang 

Peteng lemah hujan bales megrudukan
Katak dongkang pade girang ne mecande
kek kung kek kong 2x

Dingin pesan awak tiange ngetor
Nyemak saput ngojog bale
tur mesare,

8. Dadong Dauh 

Dadong Dauh
Ngelah siap putih
Suba metaluh reko
Minab wenten limolas taluhne
Nanging lacur wenten nak nepukin
Anak cerik-cerik 2x
Keliwat rusit ipun

9. Ratu Anom 

Ratu anom metangi mailen ilen 2x
Dong pirengan munyin sulinge di jaba 2x
Enyen ento manyuling di jaba tengah 2x
Gusti Ngurah Alit Jambe Pamecutan 2x

10. Meong-Meong 

Meong-meong alih je bikul
Bikul gede-gede
Buin mokoh-mokoh
Kereng pesan ngerusuhin

Juk meng juk kul
Ija medem ditu nengkul

Juk meng juk kul
Ije medem ditu nengkul

11. Cening Putri Ayu

Cening putri ayu
Ngijeng Cening jumah
Meme luas malu
Ke peken meblanja
Apang ada darang nasi

Meme tiang ngiring
Nongos ngijeng jumah
Sambilang  makumpul
Ajak titiang dadua
Ditekane nyen gagapin.

Kotak wadah gerip
Pelalianan cening
Jaja magenepan
Bunga melah-melah
Ambunane sarwa miyik.

12. Made Cerik

Made cerik
Lilig motor ibi sanja 2x
Motor Badung ka Gianyar 2x
Gadebegē muat batu.

Batu Cina
Bais lantang cunguh barak 2x
Mangumbang-ngumbang I Jodēt 2x
I Jodēt metatulupan.

Jangkak-jongkok
Manyaru manyoncong jangkrik 2x
Jangkrik Kawi Ni Luh Tama 2x
Ni Luh Tama nunjung bēru.

Tunjung bēru
Margi I Bagus masiram 2x
Masiram saling ēnggokin 2x
Tepuk api dong ceburin.

Macan rangrēng
Magelur ngebekin gumi 2x
Kadi kilap manyanderin 2x
Tepuk api dong ceburin.

Singa warak
Gajah lembune macanda 2x
Macanda saling cetakin 2x
Tepuk api dong ceburin.

13. Sumping Waluh 

Sumping-sumping waluh jalan luas ka Poh Gading, Nyoman.
Tabu-tabu lanjar, I Lanjar ma susun unti, Manis.
Apake untine, saur genjing makecap madu, Manis.
Teka Nanang Lejar lengar koplar senggot kambing, Domba.

14. Semut Api

Semut-semut api,
Kija ambin mulih,
Tembok bolong,
Saling atat saling pentil,
Ketipat nasi pasil,
Bene dongkang kipa,
Enjok-enjok cunguh besil.

0 komentar:

Poskan Komentar

Next Prev
Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
simple girl | SMK N 3 Denpasar | 02061997 | X AP.E

Popular Posts

▲Top▲